Yasaroh Anak Tukang Siomay Yang Berbakti, Akhirnya Diganjar Kuliah S3 di Belanda

Posted on 2016-02-07 08:01





Yasaroh, putri sulung dari pasangan Miftahuddin dan Marmina menjadi salah satu mahasiwa yang beruntung. Pada Juni nanti, gadis 25 tahun ini akan menempuh kuliah S3 di bidang ilmu kimia di perguruan tertinggi ternama di Belanda, Universitas Groningen. Setelah meraih gelar PhD, Yasaroh berjanji segera kembali ke tanah air. "Semoga apa yang saya lakukan bisa memberikan inspirasi bagi teman-teman yang masih muda," kata Yassaroh.

Gadis kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, 23 Mei 1991, mengaku bersyukur atas kesempatan menimbah ilmu itu. Dia menyebut hal ini tak lepas dari dorongan kedua orangtuanya. Sejak kecil, Yasaroh tergolong siswa cerdas. Mulai dari SD hingga SMA, dia tidak pernah absen meraih juara kelas. Pendidikan tingginya dia tempuh di Fakulas MIPA Universitas Negeri Makassar.

Gelar Sarjana dia rampungkan dengan mudah, terbukti dia meraih indek prestasi komulatif (IPK) 3,97. Selanjutnya, program pasca sarjana atau S2, Yasaroh memilih Institut Teknologi Bandung (ITB). Lagi-lagi di kampus prestisius ini Yasaroh mendapat prestasi yang juga cemerlang, IPK 3,88. Atas segudang prestasi akademiknya itu, banyak lembaga menawarkan beasiswa pendidikan. Salah satunya Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), yang memberikan biaya pendidikan di Belanda selama 4 tahun. "Apa yang saya capai saat ini belum sebanding dengan jerih payah orang tuaku," ujar Yassaroh.

Yang menarik, keluarga Yasaroh bukan berasal dari kalangan pejabat dan orang kaya. Ayahnya merupakan tukang siomay keliling, dan ibunya penjual nasi goreng. Terkait prestasi anaknya yang membanggakan, Miftahuddin mengatakan jika pendidikan itu penting. "Ilmu pengetahuan itu penting," ujarnya.


Sang ibu, Marmina berkisah, semasa anaknya sekolah dari SD hingga SMA, tidak pernah luput membantunya berjualan nasi goreng. "Mungkin karena namanya Yassaroh, yang dalam Al Quran berarti dimudahkam jalannya," tuturnya. 

Sahabat cahayamuslim.com, nama adalah sebuah doa, nama adalah sebuah pengharapan dan nama adalah sebuah identitas yang bisa menggambarkan sifat, karakter dan perilaku dari si empunya nama.

Namun, orangtua harus selalu memohon, meminta dan berdoa kepada Rabbul ‘Izza Allah, agar si anak dapat merealisasikan atau memanifestasikan doa atau nama yang diberikan oleh orangtuanya.

Bahkan Nabi saw. menganjurkan dan memerintahkan umatnya, supaya memberikan nama anaknya dengan nama-nama yang baik dan mulia. Lebih utama lagi diambil dari nama-nama beliau, al-Qur’an dan nama-nama Asmaul Husna. Allahu A’lamu bi Muradihi…

عن أبي الدرداء قال: قال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم: إنكم تُدعون يوم القيامة بأسمائكم وأسماء آبائكم فأحسنوا أسماءكم

Dari Abu Darda’, ia berkata : Rasulullah saw. bersabda “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka baguskanlah nama-nama kalian” (HR. Abu Dawud, Ad-Darimi dan Baihaqi)

 

sumber: suaranews.com

foto: tribunnews.com







Artikel Menarik Lainnya

Posted on 2015-11-11 12:00
Posted on 2015-11-08 12:00