Pasutri 4 Anak Harus Berbagi Nasi Seadanya, Berkali-kali Difoto & Disurvey Belum Pernah Dapat Bantua

Posted on 2016-01-13 17:15





Di tengah tebing curam, tepatnya di Dusun Sanggem, Desa Sangkan Gunung, Kecamatan Sideman, Karangasem, Bali, hidup keluarga yang serba kekurangan.
 
Adalah pasangan suami istri (pasutri) I Komang Gede Tunas (37) dan Ni Wayan Kedela bersama empat anak.
 
Keluarga Tunas tinggal di gubuk berukuran 5x3 meter dengan temboknya pecah. Di gubuk itu hanya terdapat satu kamar.
 
Selain dijadikan tempat tidur juga sebagai dapur. Bahkan kayu bakar untuk memasak menumpuk di dalam gubuk. Perabotan masak menghitam tak tertata.
Tanah yang ditempati bukan milik pribadi melainkan milik Kelian Dusun Sanggem, I Made Ardita.
 
Di dalam gubuk pun asap mengepul ketika mereka masak. Begitu juga saat musim hujan, air masuk di dalam gubuk.  
Pria yang sehari-hari sebagai buruh mengaku tak mampu memperbaiki gubuknya.
Penghasilan paling banyak Rp 60 ribu sehari. Uang tersebut tak cukup untuk biaya keperluan sehari dan sekolah anaknya.
 
“Dua anak saya SD. Masak per hari habis Rp 30 ribu. Kalau tak ada uang terpaksa utang,” jelas Tunas saat disambangi TribunBali, Senin (11/1/2016).
 
Untuk bertahan hidup ia benar-benar harus menghemat. Apalagi, hingga sekarang tak ada bantuan dari pemerintah kabupaten (Pemkab) Karangasem. Praktis ia hanya mendapat uang dari program Kartu Perlindungan Sosial (KPS).
 
“Terkadang, sehari hanya sekali masak. Nasinya harus dibagi secukupnya, biar semua dapat. Beras kami beli, karena tak dapat raskin,” jelasnya. I Made Ardita selaku kelian Dusun Sanggem, tak bisa berbuat banyak dengan kondisi kehidupan Tunas. 
 
Ardita mengaku sudah berapa kali mengajukan kepeda pemerintah terkait bantuan bedah rumah. Hanya saja, tak ada respon dari pemerintah daerah (pemda) karangasem.
 
“Setiap tahun saya ajukan, sampai saya malu dengan Tunas. Sudah berapa kali foto, cuma tak ada respon hingga sekarang,” jelas Made Ardita.
 
Tak hanya Tunas, puluhan penduduk Sanggem juga mengalami nasib yang sama.
Hanya saja, lanjutnya, yang kini membutuhkan sekali ada Komang Gede Tunas yang serba kekurangan. 
 
”Sedih lihat kondisi Tunas. Saya sudah berusaha keras, tapi tak ada respon. Jumlah penduduk di Sanggem sekitar seribu KK, yang miskin sekitar 90 orang,”ungkap I Made Ardita.
 
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Karangasem, I Made Sosiawan berjanji akan mengusahakan bantuan terhadap keluarga Tunas.
 
Melalui Kartu Perlindungan Sosial (KPS), Dinas Sosial akan mendongkrak  bantuan terhadap keluar Komang Gede Tunas dan Ni Wayan Kedele.
 
Memang diakui, di Karangasem masih banyak KK miskin yang tercecer. Sehingga, mereka tak mendapat bantuan apapun dari pemerintah. Oleh karena itu, harapnya, ditataran bawah harus jeli melihat kondisi kehidupan warga sekitar.
 
“Yang mensurvei warga kan kelian desa di sana. Kita hanya menerima apa yang disodorkan. Saya juga berharap kepada media agar turut serta memantau. Untuk keluarga Tunas akan kita dorong lewat KPS,” tegas Sosiawan.
 
Saat ini, jelasnya, KK miskin di Karangasem sebanyak 279.385 jiwa. Namun, jumlah itu sifatnya tak final. Pasalnya, masih banyak KK miskin yang tercecer, alias tak terdata oleh Dinas Sosial.
 
 
sumber: tribun bali







Artikel Menarik Lainnya

Posted on 2015-12-07 17:06