Mengharukan... Kisah Kehidupan Pipit "SpiderKid" & Cita-Citanya Sebelum Ajal Menjemput

Posted on 2016-02-07 16:42





Sebelumnya, turut berduka cita atas meninggalnya bocah yang dijuluki 'Spiderkid' karena kegemarannya memanjat tower. Dibalik aksi-aksi gilanya tersebut, ternyata dia memiliki cita-cita mulia demi membahagiakan ibunya. Salah satunya dia ingin sekali menjadi atlet panjat tebing. Meskipun banyak yang mencaci dan mencibir dirinya, namun ada juga yang bersimpati terhadap dirinya. Berikut beberapa kisah Pipit sebelum ajal menjemputnya...

Fitri Aulia (14), gadis yang sering memanjat menara Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET), meninggal dunia di Stasiun Pondok Ranji, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Menurut keterangan sang ibu, Sumarni (46), sebelum tewas, anaknya itu sempat dipukuli warga dan terjatuh dari atap rumah salah satu tetangganya.

Di sela duka citanya, Sumarni menceritakan awal mula kejadian sebelum anaknya itu tewas secara mengenaskan. 

"Rabu pagi Pipit beli nasi uduk dekat rumah sini. Dia enggak sengaja menjatuhkan nasi di sana milik salah satu tetangga," ujar Sumarni.

Mendadak sontak para tetangga kompak memarahinya. Seperti stres karena dimarahi, Pipit pun berlari mencari apa yang bisa dinaikinya.

Akhirnya, ada mobil yang melaju di jalan raya dekat rumahnya. Langsung dia membuka pintu mobil dan naik. Aksi Pipit ini membuat kaget si pemilik mobil yang kontan menyuruhnya untuk turun.

Dia pun terus berlari dan naik ke atap rumah salah satu tetangga. Warga lalu menyuruhnya untuk turun. "Di sana kata sejumlah warga dia dipukuli, saya enggak lihat," tutur Sumarni sembari terisak.

Saat Sumarni datang, dia hanya melihat Pipit sedang dinasihati warga sana. Entah karena merasa malu atau emosi, Sumarni ikut memarahi Pipit, tanpa melihat ternyata tubuh anaknya itu sudah penuh dengan luka lebam.

Pipit pun sempat pulang ke rumah, sebab siang harinya dia ada jadwal untuk latihan olahraga panjat tebing. "Alhamdulillah dia ada yang mengarahkan. Tapi hari itu dia enggak semangat, seperti kesakitan," ujar dia.

Sepulang dari latihan panjang tebing, Sumarni melihat Pipit muntah sebanyak 2 kali di depan rumahnya. Dia pun mengajak anaknya itu untuk berobat ke dokter. Belum sempat berangkat, Pipit sudah berlari-larian ke jalan raya.

Sumarni berusaha mengejar. Bukan anaknya yang didapat, malahan potongan-potongan pakaian yang dikenakan anaknya itu. Pertama, kaosnya, lalu berlari sedikit lagi celana sampai pakaian dalamnya.

Menyadari anaknya telanjang sambil berlari, Sumarni memacu larinya dengan cepat. Namun yang dia dapat, tubuh anaknya yang sudah tergeletak di rel kereta Stasiun Pondok Ranji.

"Kata orang-orang di sana dia coba mengejar kereta. Ada lagi yang bilang dia manjat bangunan di sana, tapi terjatuh dan tubuhnya langsung ke peron," ucap Sumarni.

Dia melihat Pipit sudah membuka dan menutup mulutnya, seperti berusaha bernapas dengan terengah-engah. Hingga akhirnya dia melihat mulut anaknya itu benar-benar tertutup rapat. Tidak ada lagi embusan napas keluar.

Namun saat orang-orang menyuruhnya untuk membawa ke klinik atau rumah sakit, Sumarni menolaknya. Dia berkeyakinan kalau anaknya itu sudah tewas. Sumanrni memutuskan untuk membawanya pulang ke rumah.

"Di rumah saya panggil dokter untuk benar-benar memastikan, Pipit memang sudah meninggal," ujar Sumarni.

Fitri 'Spiderkid' Ingin Jadi Atlet Panjat Tebing dan Bahagiakan Ibunya

Tak banyak orang yang tahu kalau Fitri 'Spiderkid' mempunyai cita-cita ingin hidup normal dan membahagiakan orang tuanya. Cerita itu terungkap ketika Sumarni bercerita kenangan terakhir anak bungsunya.

"Setiap malam Pipit selalu cerita pingin hidup normal punya rumah dan bisa membahagiakan orang tuanya. Dia pingin jadi atlit panjat tebing supaya bisa banggakan ibu bapaknya," ujar Sumarni ditemui di kediamannya, Ciputat.

Fitri alias Pipit merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Kebiasaannya naik menara sutet menjadi sorotan masyarakat.

"Dulu ngontrak di situ (Kampung Sawah). Ulah Pipit pro dan kontra karena ada juga yang risih melihatnya, tapi sekalinya peduli mereka sangat sayang," tuturnya sembari meneteskan air mata.

Sepeninggal sang suami, Sumarni berjuang menghidupi anak-anaknya. Penghasilan buruh cuci tentu tidak mencukupi kebutuhan mereka.

"Sinta kakaknya yang pertama sudah menikah, tinggal saya sama Pipit dan Faris Susanto kakaknya yang nomor dua. Penghasilan sebagai buruh tidak cukup buat sehari-hari, terlebih kakaknya juga sakit seperti itu (Hydrocepalus). Untungnya pemilik kontrakan ngerti kondisi kami, beliau kasih kami gubuk buat ditinggalin, karena di sana (kontrakan) banyak yang ngeluh lihat tingkah pipit," paparnya.

Sumarni sendiri sudah pasrah melihat kebiasaan anak bungsunya. Namun dirinya tidak tinggal diam begitu saja. Apapun diperbuatnya demi hidup kedua anaknya.

"Meski banyak yang mencaci anak saya, tapi di mata saya Pipit anaknya baik. Dia periang, kalau diajarin cepat menangkapnya. Selama ini saya berjuang buat hidup dia, bahkan dia kerap bantuin saya buat dagang di kelurahan kalau nggak ada cucian," paparnya.

Sumarni sendiri tinggal di rumah berukuran 3x6 meter, dengan dinding terbuat dari triplek. Rumah tersebut berdiri di atas tanas kosong milik warga. Dia bersama kedua anaknya diperkenankan untuk menempati tanah tersebut.

"Di sini sudah hampir 8 bulan, semenjak bapaknya meninggal saya nggak tau tinggal di mana terlebih banyak yang tidak suka juga dengan ulah anak saya. Sampai akhirnya pemilik kontrakan memperbolehkan saya tinggal di sini. Dibantu Sinta kakaknya Pipit saya bangun gubuk ini seadanya," paparnya.

Dibalik cibiran dan cacian maki yang sudah menjadi makanan sehari-hari Sumarni. Ada juga orang-orang yang mempedulikan Pipit

 

Kakak Pipit

Ya ulahnya yang suka naik tower sutet jadi bahan omongan. Tapi ada juga yang sayang sama Pipit, Terakhir kalinya saya lihat senyum di wajah anak saya beberapa minggu lalu, Pipit diajak ke mal. Di sana dia disuruh milih apa aja, terus makan enak, dia bilang bahagia karena merasa punya bapaknya lagi," tuturnya sembari menangis sesenggukan.

Sumarni pun mengaku sudah ikhlas atas kematian anak bungsunya. Tak ada rasa dendam sedikit pun di dalam hatinya.

"Saya sudah ikhlas, Pipit udah dimandiin bahkan jenazahnya udah dikubur. Saya nggak perpanjang biarin aja nanti Allah yang membalas," pungkasnya.

subhanallah... sahabat cahayamuslim, ternyata begitu mengharukan kisah hidup Pipit, seorang Yatim ditinggal ayahnya, hidup dalam kemiskinan dan selalu menjadi cibiran orang-orang.

Dibalik kenakalannya yang suka memanjat tower, ternyata cita-cita Pipit sungguh mulia, yaitu menjadi seorang atlit panjat tebing untuk membahagiakan ibunya. Masya Allah...

Namun apa daya kini Pipit telah tiada meninggalkan luka bagi Sumarni, tapi meskipun begitu berdosalah orang-orang yang menyakiti Pipit terlebih lagi dia adalah seorang Yatim.

Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

« أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا »  وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً

Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya.

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan dan pahala orang yang memperhatikan anak yatim, sehingga imam Bukhari mencantumkan hadits ini dalam bab: keutamaan orang yang mengasuh anak yatim.

Semoga Pipit diterima disisi-Nya & keluarga yang ditinggalkan tabah serta diberikan kekuatan iman oleh Allah. 

 

sumber berita: kaskus.co.id









Artikel Menarik Lainnya