Memang, Pacaran Selalu Berakhir Dengan Luka

Posted on 2016-01-05 20:10





MENYESAL tak ada guna. Tentu saja, seandainya dulu tak tergoda dengan yang namanya “pacaran,” mungkin saya tak akan merasakan kekecewaan seperti dulu – sakit akibat ulah sendiri.

Saya Ayu, saat itu masih 19 tahun. Pertama kalinya aku terjerumus ‘pacaran’ adalah saat kuliah semester 3. Sewaktu SMP dan SMA belum pernah sekalipun ‘pacaran.’ Kalau naksir-naksir sih, tentu saja pernah – wajar karena masih normal.

Awalnya tak terlalu memikirkan punya pacar atau tidak. Cuma, karena masih terlalu bodoh mendengarkan omongan miring orang-orang; “kok belum punya pacar, sih? Jangan-jangan kamu lesbi ya? Berdua terus sama si Lingling?” Akhirnya, jatuh juga ke kubangan nista ‘pacaran’ yang jelas-jelas dilarang agama.

Kebetulan saat itu ada laki-laki yang naksir. Dasar lelaki pintar bermulut manis, saya pun terlena dan jatuh dengan bujuk rayunya. Karena punya tujuan tertentu, sudah pasti apapun caranya ia lakukan demi mendapatkan hatiku. Awalnya, ia mulai mencari tahu tentang saya lewat teman-teman terdekat. Sampai akhirnya kita berkenalan secara langsung dan mulai sering berkomunikasi.

 

Lelaki ini memang pandai memikat hati, tak butuh waktu lama sampai akhirnya saya benar-benar jatuh cinta padanya. Aku selalu ikut dengannya ketika dia mengajakku main keluar. Kebetulan saat kuliah saya nge-kost, jadi jauh dari perhatian orang tua.

Saya akui saat pergi berdua, kami memang tak pernah melakukan hal-hal gila layaknya remaja-remaja sekarang berpacaran.

Setelah 2 bulan berjalan, lelaki ini seolah menghindar dari saya. Jangankan bertemu, membalas SMS saja tak pernah. Sempat bertanya kenapa, apa saya berbuat salah? Ingin rasanya menanyakan kelanjutan hubungan ini.
Tak perlu menunggu lama, lelaki inipun menghubungiku. Namun apa yang dibicarakannya sungguh membuat hati kecewa, ia berkata tak ingin melanjutkan hubungan.

Saat itu ingin rasanya memakinya habis-habisan, bagaimana tidak? Saat mendekatiku, dia bermanis-manis di depanku, berkenalan secara gentle, dan mengatakan secara langsung serius ingin menikah. Tapi saat ingin berpisah, dia hanya berbicara kurang dari 10 menit lewat telepon dan seolah membuangku begitu saja.

Luar biasa terpukulnya saya saat itu. Bukan karena aku ditinggal oleh laki-laki yang saya sukai, namun caranya mengakhiri hubungan ini seperti membuang permen karet yang sudah tidak manis lagi. Ya, saya merasa seperti permen karet yang dikunyah, diambil rasa manisnya, lalu dibuang kapan saja, hina. Andai saja aku tahu seperti itu buruknya berpacaran, akan kujauhi sesuatu yang bernama “pacaran” itu.

Alhamdulillah setelah bertaubat, sekarang saya sudah menikah dan menjalani kehidupan dengan suami yang jauh lebih baik dari lelaki yang pernah membuangku dulu. Memang benar, setelah menikah hidup jauh lebih tenang tanpa takut terbelenggu dosa zina.

 

sumber: islampost







Artikel Menarik Lainnya

Posted on 2015-12-07 17:06
Posted on 2015-11-04 15:00