Kisah Renungan: Papa Kembalikan Tangan Ita...

Posted on 2015-12-06 09:54





Sepasang suami isteri seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak untuk diasuh pembantu rumah saat mereka bekerja. Anak tunggal pasangan ini, wanita berumur tiga 1/2 th.. Sendirian dirumah, dia sering dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja.

Dia bermain di luar rumah. Dia bermain ayunan, berayun-ayun diatas ayunan yang dibeli papanya, maupun memetik bunga matahari, bunga kertas dan sebagainya di halaman tempat tinggalnya.

Satu hari dia lihat sebatang paku karat. Dia juga mencoret semen tempat mobil ayahnya diparkirkan namun lantaran lantainya terbuat dari marmer, coretan tak terlihat. Dicobanya pada mobil baru ayahnya. Ya… lantaran mobil itu bewarna gelap, coretannya terlihat jelas. Apa lagi kanak-kanak ini juga bikin coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah serta ibunya mengendarai motor ke tempat kerja lantaran jalan macet. Sesudah sang anak mencoret penuh sisi yang sebelah kanan dia beralih ke samping kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu serta ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing serta lain sebagainya ikuti imaginasinya. Peristiwa itu berjalan tanpa ada disadari si pembantu rumah.

Pulang petang itu, terkejutlah bapak ibunya lihat mobil yang baru satu tahun dibeli dengan cicilan. Si ayah yang belum lagi masuk ke rumah ini juga selalu menjerit, ‘Kerjaan siapa ini? ‘ Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu lari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih-lebih lihat muka bengis tuannya.

Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia selalu menyampaikan ‘Tak tahu…! ‘ ‘Kamu dirumah selama seharian, apa sajakah yg kau kerjakan? ‘ hardik si isteri lagi. Si anak yang mendengar nada ayahnya, mendadak lari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata ‘Ita yg bikin itu papa…. cantik kan! ‘ tuturnya sembari memeluk papanya mau bermanja seperti biasa. Si bapak yang hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon bunga raya di depannya, selalu dipukulkannya berulang-kali ke telapak tangan anaknya.

Si anak yang tidak tahu apa-apa terlolong-lolong kesakitan sekalian ketakutan. Senang memukul telapak tangan, si bapak memukul juga belakang tangan anaknya. Si ibu hanya mendiamkan saja, seakan merestui serta terasa senang dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak paham mesti berbuat apa? Si ayah cukup keras memukul-mukul tangan kanan serta lalu tangan kiri anaknya.

Sesudah si ayah masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu rumah menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dilihatnya telapak tangan serta belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sembari menyiram air sambil dia turut menangis. Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan kepedihan waktu luka-lukanya itu terkena air. Si pembantu rumah lalu menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah.

Keesokkan harinya, ke-2 belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu. ‘Oleskan obat saja! ‘ jawab tuannya, ayah si anak. Pulang dari kerja, dia tak memerhatikan anak kecil itu yang menggunakan saat di kamar pembantu. Si ayah konon ingin mengajar anaknya. Tiga hari berlalu, si bapak tak pernah menjenguk anaknya sesaat si ibu juga demikian namun sehari-hari ajukan pertanyaan pada pembantu rumah. ‘Ita demam…’ jawap pembantunya ringkas. ‘Kasih minum obat penurun panas, ‘ jawab si ibu.

Saat sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Waktu dipandang anaknya Ita dalam pelukan pembantu rumah, dia tutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu tubuh Ita terlampau panas. ‘Sore kelak kita bawa ke klinik’ kata majikannya itu. Hingga waktunya si anak yang telah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan ia dirujuk ke hospital lantaran keadaannya serius. Sesudah satu minggu di rawat inap doktor memanggil ayah serta ibu anak itu.

‘Tidak ada pilihan.. ‘ tuturnya yang mengusulkan supaya ke-2 tangan anak itu diamputasi lantaran gangren yang berlangsung telah terlampau kronis.
‘Tangannya telah bernanah, untuk menyelamatkan nyawanya ke-2 tangannya butuh dipotong dari siku ke bawah’ kata doktor.

Si ayah serta ibu seperti terserang halilintar mendengar kalimat itu. Merasa dunia berhenti berputar, namun apa yang bisa dikatakan. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati serta lelehan air mata isterinya, si ayah terketar-ketar di tandatangani surat kesepakatan pembedahan.

Keluar dari bilik pembedahan, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga heran lihat ke-2 tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka bapak serta ibunya. Lalu ke muka pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi lihat mereka seluruhnya menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata.

‘Papa.. Mama… Ita tidak akan melakukannya lagi. Ita tak mau dipukul ayah. Ita tidak ingin jahat. Ita sayang ayah.. sayang ibu. ‘ tuturnya berkali-kali membikinkan si ibu tidak berhasil menahan rasa sedihnya.

‘Ita juga sayang Kak Narti.. ‘ tuturnya melihat muka pembantu rumah, sekalian membikinkan gadis itu meraung histeris.

‘Papa.. kembalikan tangan Ita. Untuk apa di ambil.. Ita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimanakah caranya Ita ingin makan nanti? Bagaimanakah Ita ingin bermain nanti? Ita janji tdk akan mencoret-coret mobil lagi, ‘ katanya berulang-ulang.

Serasa copot jantung si ibu mendengar kalimat anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang telah terjadi, tidak ada manusia bisa menahannya.

Pembaca yang budiman, pelajaran berharga apa yang dapat kita petik dari cerita nyata ini?

Suatu cerita untuk dijadikan pengalaman juga sebagai pelajaran, mengajar dengan cara kekerasan seperti memukul bukanlah langkah terbaik.

 

sumber: mediaterpecaya.tk

 







Artikel Menarik Lainnya

Posted on 2015-11-08 10:00