Kisah Mu'adz, Anak Tuna Netra Penghapal Quran Dari Mesir Yang Tak Ingin Disembuhkan Matanya

Posted on 2016-02-06 08:41





Mampu menghafalkan Al-Qur’an dengan baik adalah karunia Allah yang sungguh tak ternilai harganya, dan tentunya tidak semua orang di dunia diberikan karunia seperti  ini. Menghafal Al-Qur’an itu sebenarnya mudah, tidak sulit dan bisa dilakukan oleh siapa saja, berapapun usianya & apapun profesinya, bukan menjadi faktor atau alasan yang membuat menghafal Al-Quran itu menjadi susah. Balita, anak anak, remaja dan orang tua semuanya bisa menghafalkan Al-Quran. Sampai-sampai seorang yang buta atau tidak bisa melihat pun bisa melakukannya. Inilah yang terjadi kepada seorang anak tuna netra yang berasal Mesir ini.

Berikut kisah inspiratif anak buta yang hafizh Al-Quran yang bernama Mu’adz. Ia adalah seorang anak yang lahir kurang beruntung layaknya manusia normal lainnya. Anak ini lahir dalam kondisi tidak dapat melihat (buta). Sebagaimana orang buta lainnya, ia tidak bisa banyak melakukan sesuatu, terbatas oleh ketidakmampuannya untuk melihat. Namun, meski buta ada yang unik pada anak ini, ternyata Mu’adz telah berhasil menghafalkan Al-Qur’an lengkap 30 juz. Sejak awal ia melakukannya (menghafal) dengan penuh kesabaran, dan didorong oleh motivasi yang tinggi. Hingga pada usianya yang ke-11 tahun ia berhasil menghatamkan hafalan Al-Qur’an. Sesuatu yang tidak semua orang dapat melakukannya, oleh manusia normal sekalipun.

Pembaca sekalian, mungkin bagi kita yang telah diberikan nikmat penglihatan oleh Allah menganggap mata adalah jendela dunia. Tanpanya, hidup ini terasa tidak lengkap dan sempurna. Bayangkan saja, jika sebelumnya kita dapat melihat (penglihatan normal ternyata akhirnya ditakdirkan buta na’udzubillah, apa yang terjadi? Kita tentu bersedih dan menderita karena tidak dapat melihat lagi. Namun, bagi Mu’adz ia sama sekali tidak pernah bersedih bahkan mengeluh dengan atas derita yang alami ini. Justeru ia bersyukur kepada Allah atas takdir dan kondisinya sekarang. Itu ia tunjukkan dengan menghafal Al-Qur’an.

Keterbatasan fisik tidak membuatnya terhalang untuk menghafal Al-Qur’an. Anak ini menganggap bahwa takdirinya ini (buta) menjadi jalan baginya untuk bisa hafal Al-Qur’an.

Dalam sebuah rekaman vidoe acara TV yang dipandu oleh seorang imam masjid, yaitu Syaikh Fahd Al-Kandari, sempat mewawancarai Mu’adz. Bertanya bagaimana ia bisa menghafal Al-Quran dalam kondisinya ini. Semangatnya untuk menghafal ayat-ayat Allah yang mulia membuat langkah kakinya ringan untuk pergi ke tempat gurunya. Dan terjadilah dialog antara syaikh Al-Kandari dan Mu’adz.

“Saya yang datang ke tempat syaikh,”kata Mu’adz.

“Berapa kali dalam sepekan?”Tanya syaikh.

“Tiga hari dalam sepekan,” jawabnya.

“Pada awalnya hanya sehari dalam sepekan. Lalu saya mendesak beliau (syaikhnya) dengan sangat agar menambah harinya, sehingga menjadi dua hari dalam sepekan. Syaikh saya sangat ketat dalam mengajar. Beliau hanya mengajarkan satu ayat saja setiap hari,” sambungya. “Satu ayat saja?” ujar beliau terkejut, takjub dengan semangat baja anak ini.

Dalam tiga hari itu ia khususkan untuk belajar ayat-ayat suci Al-Qur’an, tidak ada waktu keluar bermain dengan kawan-kawan sebayanya. Sang penyiar TV tersenyum dan menepuk paha anak itu tanda kagum, disambut senyum ceria oleh anak ini. Yang lebih mengagumkan dalam dialog itu adalah pernyataan Mu’adz tentang kebutaannya. Ia tidak berdoa kepada Allah agar Allah mengembalikan penglihatannya, namun rahmat Allah-lah yang ia harapkan. 

“Dalam shalat, aku tidak meminta kepada Allah agar Allah mengembalikan penglihatanku,” kata anak ini.

Jawaban anak ini membuat sang syaikh makin terkejut. “Engkau tidak ingin Allah mengembalikan penglihatanmu? Mengapa?” tanyanya heran, seolah tak yakin. Dengan wajah meyakinkan, anak itu memaparkan alasannya. Bukannya ia tak yakin pada Allah, bukan. Namun ia menginginkan yang lebih indah dari sekedar penglihatan.

“Semoga menjadi keselamatan bagiku pada hari pembalasan (kiamat), sehingga Allah meringankan perhitungan (hisab) pada hari tersebut. Nanti saat berdiri di hadapanNya, takut dan gemetar, Allah menanyakan tentang nikmat penglihatan dan Dia akan bertanya “apa yang telah engkau lakukan pada Al-Qur’an ini?”Saya hanya berdoa semoga Allah meringankan perhitungan-Nya untuk saya pada hari kiamat kelak,” paparnya dengan tegas. 

Tentu saja, setelah mendengar kalimat mulia anak ini, semua yang ada di studio saat itu diam. Penyiar TV nampak berkaca-kaca, tak bisa dibendung akhirnya air matanya menetes juga. Para pemirsa di stasiun TV serta kru TV tersebut juga tak tahan akhirnya menitikkan air mata.

“Pada saat ini, saya teringat banyak kaum muslimin yang mampu melihat namun bermalas-malasan dalam menghafal kitab Allah, Al-Quran. Ya Allah, bagaimana alasan mereka besok (di hadapan-Mu)?” kata Syaikh Fahd Al-Kanderi. “Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan,” kata penghafal Al-Quran muda ini. Subhanallah, ia tak pernah lupa dengan rabb-nya. Anak ini juga mengatakan bahwa ia terinspirasi dari kaidah Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullah.

“Kaidah imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah yang mengatakan “Allah tidak menutup atas hamba-Nya satu pintu dengan hikmah, kecuali Allah akan membukakan baginya dua pintu dengan rahmat-Nya,’” katanya.

Kehilangan penglihatan sejak kecil, tidak membuat ia mengeluh kepada Sang Pencipta. Ia tak iri pada orang lain apalagi kufur nikmat. Ikhlash menerima takdirNya. “Alhamdulillah, saya tidak iri kepada kawan-kawan meski sejak kecil saya sudah tidak bisa melihat. Ini semua adalah qadha’ dan qadar Allah,” katanya. 

“Kita berdoa kepada Allah semoga menjadikan kita sebagai penghuni surga Al-Firdaus yang tertinggi,” kata anak yang hafal Al-Quran itu. Matanya yang buta, tak membuat hatinya buta dalam mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan. Subhanallah…

Dalam sebuah hadits Qudsi Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Allah berfirman, “Jika Aku menguji hamba-Ku dengan menghilangkan penglihatan kedua matanya lalu ia bersabar, niscaya Aku akan menggantikan penglihatan kedua matanya dengan surga.” (HR. Bukhari no. 5653,Tirmidzi no. 2932, Ahmad no. 7597,Ad-Darimi no.2795 dan Ibnu Hibban no. 2932).

Begitulah kisah inspiratif anak buta yang hafizh Al-Quran, kemauannya yang kuat untuk dapat menghafal Al-Quran seolah membuatnya lupa bahwa ia seorang anak yang buta. Ia menganggap fisiknya yang punya keterbatasan bukan menjadi sebuah penghalang baginya untuk dapat meraih cita-citanya menjadi seorang hafizh atau penghafal Al-Quran. Ia sepenuhnya dapat menyadari bahwa apapun yang diberikan oleh Allah SWT di dunia ini kelak di akhirat akan dimintai pertanggung jawabannya. Maka dia tak pernah sedikitpun menyia-nyiakan waktunya, ia selalu menikmati hari-harinya dengan membaca Al-Quran hingga dia behasil menghafalnya. 

Kisah inspiratif anak buta yang hafizh Al-Quran di atas merupakan salah satu bukti bahwa Al-Quran itu mudah, dan Al-Quran memang mudah untuk dihafal, mudah untuk siapa saja, tak terkecuali oleh kita. Artinya, siapapun kita pada dasarnya bisa saja menghafal Al-Quran.

 
Berikut video dan transkrip pembicaraan Mu'adz dengan Syech Fahad:
 

Syaikh Fahad      : Hari ini kita melalui perjalanan yang panjang, dan sangat melelahkan. Bagaimanapun sampai di tempat ini membuat waktu dan usaha kami tidak sia-sia.  Kami sekarang berada di provinsi bagian timur, di Jazeeratul-Sa’adah.

Bagaimana kabar anda syaikh Muadz?

Muadz                  : Alhamdulillah

Syaikh Fahad      : Saya berharap anda baik-baik saja. Di Jazeeratul-Sa’adah, saya merasa senang duduk bersama anda.

Muadz                  : Alhamdulillah

Syaikh Fahad      : syaikh Muadz, saya ingin mendengar kisah anda bersama al-Qur’an. Anda memulainya    di usia 6 tahun. Bagaimana awalnya?

Muadz                  : Ya, itulah awalnya, dan perjalanan yang sangat berat bagi saya. Tapi saya melakukannya karena yakin keuntungan yang akan saya dapatkan di dunia-akhirat, tentunya dengan izin Allah Swt.  Saya berharap al-Qur’an menjadi syafaat bagi saya. Inilah mengapa orang tua saya sabar terhadap saya, dan saya juga bertahan dari kesulitan.

——

Ibunda Muadz          : Saya tidak pernah menganggap remeh mengantarkannya ke sekolah pagi-pagi, sekalipun dia lelah. Lalu setelah sekolah kami pergi ke halaqah Qur’an. Lalu kami plang ke rumah. Kami memuroja’ah dan menghafalkan ¼ halaman yang diberikan gurunya.  Dan untuknya saya punya tugas tambahan 2 juz perhari. Saya memberikannya pilihan untuk menyelesaikannya ba’da shubuh atau menjelang tidur.  Dia akan mendatangi saya dan berkata, “Bu, saya capek”.  Saya berkata, “Mari menghafal al-Qur’an, dengan izin Allah swt kelelahanmu akan hilang”.

—-

Ayahanda Muadz       : Kami bertemu ulama Maulana Jamal Saied Deeb, beliau tinggal di kota al-Zakazeek.  Kami menjelaskan situasi anak kami, dan beliau sangat terbuka -Semoga Allah membalasnya-. Jarak ke rumahnya sekitar 10-12 km.

—-

Syaikh Fahad      : Saya dengar anda pergi ke rumah guru anda dengan sepeda motor?

Muadz                  : Ya, dengan ayah saya.

Syaikh Fahad      : Ceritakan pada kami jalan mana yang anda tempuh?

Muadz                  : Kami pergi melalui provinsi bagian timur hingga mencapai tempat yang disebut “Garasi Bus”.

Syaikh Fahad      : Seberapa jauh dari rumah anda?

Muadz                : Jika naik sepeda motor, sekitar ¾ jam. Hampir satu jam.

Ayahanda Muadz    : Saya selalu bangga memboncengkannya. Di sepeda motor saya terdapat kaca pelindung, dan karena saya tidak hafal al-Qur’an,  saya menulis tugas ¼ halaman Muadz, lalu menempelkannya di kaca pelindung.

Kami tidak pernah menyiakan waktu. Muadz membacakannya ke saya, dan saya membenarkannya selagi mengendarai .

Ibunda Muadz         : Di beberapa contoh, kami mengulanginya. Jika Muadz membuat sedikit saja kesalahan dalam hukum bacaan, syaikh akan memintanya untuk mengulang lagi.

Syaikh Fahad      : Syaikh Muadz, apakan benar saat anda pergi ke tempat guru anda dengan tugas hafalan, satu juz misalnya. Apakah benar anda kerap melakukan kesalahan?

Muadz                  : Oh ya!

Syaikh Fahad      : Perlu diketahui, syaikh Muadz harus melakukan perjalanan kesana untuk belajar. Gurunya tidaklah tinggal di dekat sini atau datang kemari untuk  mengajar.  Tapi dia yang datang ke sana.

Muadz                  : Coba anda bayangkan, saya pergi menemui syaikh selama menghafal al-Qur’an. Tebaklah berapa kali seminggu?!

Syaikh Fahad      : Berapa kali?

Muadz                  : 3 kali dalam satu minggu. Itupun saya memintanya dengan sangat. Awalnya beliau hanya membolehkan 2 kali dalam seminggu, tetapi saya tetap memintanya agar menjadi 3 kali. Dan beliau menyuruh saya untuk merenungkan betapa berat yang akan saya jalani nanti.

Dan terkadang, beliau tidak tanggung-tanggung hanya memberikan satu ayat! Hanya satu ayat!

Syaikh Fahad      : Hanya satu ayat?!

Menempuh perjalanan jauh hanya diberikan satu ayat?!

Muadz                  : Demi Allah, beliau memang melakukannya!

Di lain kesempatan saya juga tidak sempat bermain.

Syaikh Fahad      : Tapi saya dengar, anda lumayan sering bemain syaikh? (nada bercanda)

Muadz                  : hehehehe

Alhamdulillah, Allah memberikan nikmat yang besar dan mengambil penglihatan saya.

Alhamdulillah, saya benar-benar mensyukuri nikmat ini.  Bahkan dalam shalat, saya tidak pernah meminta Allah mengembalikan penglihatan saya!

Syaikh Fahad      : Anda tidak menginginkannya? Mengapa?

Muadz                  : Saya berharap kebutaan ini akan menjadi hujjah di yaumil hisab kelak, ketika bertemu dengan-Nya.  Sehingga Dia membebaskan saya dari adzab..

(syaikh Fahad menangis……)

Muadz                 : Kelak, saya akan menghadap pada-Nya . Saya tahu bahwa saya akan ketakutan dan gemetar. Dia akan bertanya mengenai apa yang telah saya perbuat dengan al-Qur’an? Saya berharap Dia mengampuni saya, Dia mengampuni siapa saja yang dikehendaki-Nya.  Dia telah memberikan begitu banyak dengan al-Qur’an, hingga jika saya  pergi kemanapun.  Saya pergi sendiri! Hanya saya! Saya tidak ingin merepotkan siapapun. Tapi ayah  takut saya pergi sendirian.

Syaikh Fahad      : Saat ini terlintas di benak saya, banyak umat muslim dapat melihat, tapi mereka terlau malas menghafal al-Qur’an.  Oh Allah, apa yang akan menjadi hujjah mereka di yaumil hisab kelak?!

Syaikh Fahad      : Segala puji bagi Allah di setiap saat. Syaikh Muadz, saya dengar anda memegang salah satu prinsip dari Ibnul Qayyim.

Muadz                  : Ya

Syaikh Fahad      : Apa itu?

Muadz                : Ibnul Qayim rahimahullah berkata, “ Allah tidak akan pernah menutup pintu bagi hamba-Nya denga kebijaksanaan-Nya, bahkan Dia membuka pintu lainnya dengan ampunan-Nya”.

Syaikh Fahad      : Jadi, anda tidak pernah bersedih berada di antara teman-teman sebaya dalam keadaan buta?

Muadz                  : Tidak pernah!

Saat masih anak-anak, kebanyakan orang akan merasa down. Ketika kanak-kanak saya juga merasa frustasi, saya tidak akan menyangkalnya.  Kadang bahkan saya marah.  Tapi ketika tumbuh dewasa, saya berhenti  marah dan bersyukur pada Allah, saya menerimanya sebagai takdir Allah.

Syaikh Fahad      : Ya, Nabi kita Muhammad Saw berkata, “Apabila aku menguji hambaKu dengan membutakan kedua matanya dan dia bersabar maka akan Aku ganti kedua matanya dengan surga “. (HR. Ahmad)

Muadz                  : Kita mohon pada Allah semoga kita memperoleh surga firdaus, Aamiin ya Allah.

—–

*Dalam acara Musafir Ma’al Qur’an yang dipandu oleh syaikh Fahad al-Kandari dari Kuwait.

 

cahayamuslim.com

sumber: kaskus.co.id/youtube.com







Artikel Menarik Lainnya