Kisah Hudea dan Anak-Anak Syria Yang Hidup Dalam Trauma Ketakutan

Posted on 2015-11-16 09:58





Ramainya peredaran foto bocah Suriah berambut poni dan berpipi tembam di dunia maya tidak lepas dari peran Nadia Abu Shaban. Jurnalis fotografer yang berbasis di Gaza, Palestina, itu menyebarkan foto tersebut melalui Twitter pada Selasa (24/03) lalu.

‘Seorang jurnalis foto mengabadikan foto bocah Suriah ini. Bocah itu berpikir sang jurnalis foto menodongkan senjata, bukan kamera, sehingga dia menyerah’, demikian tulis Nadia dalam akun Twitternya.

Sejak diunggah ke dunia maya pada Selasa (24/03) lalu, foto itu telah dikicaukan 11.000 kali. Kemudian, ketika diunggah di jejaring Reddit, foto itu menerima 1.600 komentar dan 5.000 vote.

‘Saya menangis’, ‘sedih bukan main’, dan ‘kegagalan kemanusiaan’ ialah komentar-komentar yang jamak ditulis netizen saat mengomentari foto tersebut.

Kendati begitu, tak jarang pula pengguna internet yang menuding foto itu hoax atau sengaja dibikin. Tuduhan itu dialamatkan mengingat tiada nama fotografer pada foto tersebut.

Saat BBC menanyakan hal itu kepada Nadia Abu Shaban, dia mengaku dirinya bukan pengabadi momen tersebut. Dia juga tidak bisa menjelaskan identitas fotografer yang mengambil foto itu.

Titik terang mulai muncul ketika seorang pengguna Imgur--situs khusus untuk berbagi foto--mengaitkan foto tersebut pada sebuah kliping surat kabar Turki. Nama fotografer dalam kliping foto itu ialah Osman Sağırlı.

Kamp pengungsi

BBC kemudian melacak keberadaan Sağırlı. Pria itu kini bekerja di Tanzania dan foto tersebut dia abadikan saat meliput konflik Suriah untuk surat kabar Türkiye, Desember 2014 lalu.

Menurutnya, bocah yang dia bidik sebenarnya bocah perempuan bernama Hudea. Bocah berusia empat tahun itu ialah anak keluarga pengungsi di kamp pengungsian Atmeh di Suriah, sejauh 10 kilometer dari perbatasan Turki. Anak itu sampai di kamp bersama ibu dan dua saudara kandungnya setelah bepergian sejauh 150 kilometer dari rumah mereka di Kota Hama, Suriah.

“Saat itu saya menggunakan lensa tele dan dia mengiranya itu senjata. Saya sadar dia amat takut ketika saya mengambil foto karena dia menggigit bibirnya dan mengangkat kedua tangannya. Umumnya anak-anak lari dan menyembunyikan wajah mereka atau tersenyum saat melihat kamera,” ujar Sağırlı.

Sewaktu meliput kondisi di kamp tersebut, Sağırlı mengaku menjadi paham akan situasi konflik sebenarnya.

“Di kamp itu ada orang-orang yang tercerai berai dari kampung halaman mereka. Lebih mengena melihat derita mereka bukan melalui orang dewasa tapi melalui anak-anak. Sebab anak-anak yang memancarkan perasaan mereka dengan keluguan,” ujarnya.

Foto Hudea pertama kali muncul di surat kabar Türkiye pada Januari lalu. Foto itu tersebar di kalangan pengguna media sosial Turki saat itu. Namun, baru beredar ke seluruh dunia beberapa bulan setelahnya.

 

refferensi: www.bbc.com & www.dw.com 







Artikel Menarik Lainnya

Posted on 2015-12-07 17:06
Posted on 2015-11-04 15:00