Gersang dan Tandusnya Padang Arofah Itupun Kini Berubah Hijau Oleh Pohon Soekarno

Posted on 2015-12-20 07:15





Sejarah Pohon Soekarno di Tanah Arab

Tidak ada yang memungkiri dan membantah bahwa Presiden Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia memiliki nama yang sangat Harum di Indonesia. Selain dikenal sebagai pemimpin kaliber dunia yang kharismatik, orang-orang-orang Arab juga mengenal Soekarno dalam nama pohon.

Yah pohon-pohon yang tumbuh di padang Arofah disebut oleh orang-orang Arab sebagai Pohon Soekarno. Di Indonesia, pohon ini dikenal dengan nama Mimba, Pohon Imbo, atau Pohon Imba. Pohon ini memiliki famili dekat di antaranya adalah pohon Mindi.

Kedua tanaman itu memang memiliki kemampuan untuk hidup dan berkembang di tanah tandus yang kering. Nama latin mimba adalah Azadirachtan indica, famili dari Meliaceae mengandung zat azadirachtin sejenis obat (insektisida).



Disebut pohon Soekarno karena orang pertama yang mengenalkan pohon tersebut tidak lain adalah Presiden RI Pertama Soekarno. Waktu itu Presiden RI Pertama, melaksanakan ibadah haji pada tahun 1955, sebagai anggota Gerakan Non Blok sempat bertemu dengan pejabat Kerajaan Arab Saudi yang dipimpin oleh Raja Fahd bin Abdul Azis waktu itu.

Soekarno mengemukakan saran-saran dalam pelaksanaan ibadah haji, diantaranya perlunya penghijauan tanah suci agar sejuk dan nyaman, walaupun panas menyengat. Usul ini dilanjuti dengan membuat pot-pot besar yang diisi dengan tanah dari Indonesia dan Thailand serta diberi aliran air sistem irigasi tetes yang kemudian ditanami pohon mimba. Indonesia juga mengirim tenaga ahli dari kehutanan untuk menghijaukan tanah haram tersebut.

Penghijauan Padang Arafah

Arofah adalah daerah terbuka dan luas di sebelah timur luar kota suci umat Islam di Mekkah, Arab Saudi. Luas Padang Arofah sekitar 5,5 x 3,5 km, yang disekitarnya dikelilingi bukit-bukit batu. Pada awalnya, Padang Arofah merupakan hamparan tandus padang pasir datar yang ditingkahi batu padas.

Di siang hari terbayangkan betapa panas dan teriknya di sana. Namun kini, Padang Arofah sudah begitu rindang dengan pepohonan yang tumbuh subur. Bahkan, hijaunya hampir merata di seluruh hamparannya.








Pada musim haji, di bawah pohon-pohon Soekarno itu dipasang tenda-tenda untuk penginapan sementara para jamaah. Tenda-tenda itu dipersiapkan menjelang acara wukuf yang dimulai pada 9 Dzulhijjah setelah shalat Zuhur.

Puncak acara wukuf dipusatkan di Masjid Namirah yang terletak tepat di tengah-tengah Padang Arafah. Sekarang, suasana di sana pun tak begitu gersang dan terasa kesejukannya di bawah pohon rindang.

Menghijaukan Tanah Arab

Berkat perawatan dan pengembangan yang dilakukan Pemerintah Arab Saudi, pohon soekarno saat ini tidak hanya tumbuh di Arafah. Di sejumlah kota, seperti Madinah dan Mekkah, pohon ini juga tumbuh tersebar di pelosok kota.

Di kawasan Aziziyah, Mekkah, misalnya, di sejumlah halaman gedung terdapat pohon-pohon mindi yang tumbuh lebih dari enam meter. Bentuk pohonnya pun dibuat beraneka. Di Hudaibiyah, tempat bersejarah saat dulu Nabi Muhammad SAW membuat perjanjian dengan orang-orang Quraish, pohon Soekarno dibiarkan tumbuh bercabang-cabang sehingga lingkungannya menjadi rindang.

Hudaibiyah sekarang ditetapkan sebagai salah satu tempat miqat untuk ibadah umrah. Di halaman Museum Ka’bah, atau disekitar Masjid Aisyiah, Tan’im, dan di sepanjang jalan Kota Makkah, pohon Soekarno dipangkas berbentuk bulat, meruncing, atau lainnya sesuai dengan tata kota.

Bangsa Indonesia bisa berbangga diri dengan adanya pohon Soekarno yang banyak dikenal oleh penduduk Arab Saudi itu.











Kelestarian pohon itu diharapkan tetap terjaga meskipun 3,5 juta lebih jemaah akan datang, baik saat menunggu maupun saat wukuf berlangsung. Dam atau denda di berlakukan bagi jemaah, di antaranya jika mencabut rumput sekalipun atau mematahkan ranting pohon. Dam berupa memotong seekor kambing tentu akan menjauhkan jemaah, misalnya, dari mematahkan dahan atau ranting pohon soekarno.

Nah itu,salah satu jasa Presiden Soekarno untuk Dunia, beliau sangat visioner kala itu dimana memperhatikan kenyamanan para jamaah haji yang melaksanakan ibadah di tanah suci, bukan hanya untuk jamaah Haji dari Indonesia, tapi untuk Seluruh Dunia.  

Soekarno sudah tiada, tetapi jasanya masih diingat. Inilah yang disebut kata pepatah : Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan jasa. Insyaallah. Subhanallah – Allahu Akbar.

 

sumber: kaskus.co.id/syahdan7









Artikel Menarik Lainnya

Posted on 2015-11-08 10:00
Posted on 2015-10-30 21:14