Bang Aku Mau Tobat, Gimana Caranya? Tiap Aku Berniat, Tapi Ditengah Jalan Balik Lagi Maksiat

Posted on 2016-01-17 09:44





Seorang teman seperti bernada putus asa mengirimkan pesan melalui inboks kepadaku, "Bang, aku mau taubat. Tapi tidak tahu bagaimana caranya ? Aku berniat, tapi ditengah jalan aku kembali maksiat.."

Membaca pesan itu, saya seperti terlempar ke masa lalu ketika mempunyai masalah yang sama.

Fitrahnya seorang manusia sejatinya adalah suci, karena ketika ia lahir dalam keadaan yang suci. Godaan dunia lah yang membuat kita menjadi separuh binatang.

Ada saat dimana godaan itu akhirnya bermutasi menjadi sifat. Kita terperangkap dalam kemaksiatan. Begitulah yang terjadi padaku dulu. Harta berlimpah, semua mudah, sombong menghiasi dada. Dan pada masa itu, bahkan Tuhan pun tidak ada. Aku menjadi manusia materi. Semua ada ukurannya.

Tetapi sejatinya saya limbung. Ada yang kosong. Karena tidak paham, kuasupi kekosongan itu dengan maksiat lagi, sehingga semakin lama bukannya semakin "sembuh" tetapi malah bertambah "sakit". Begitu terus, sampai pada titik saya jenuh dengan semua kepalsuan ini.

Taubat berarti kembali. Kita tiba2 rindu pada diri kita yg dulu suci. Tapi tidak tahu bagaimana, apa yang harus dilakukan ? Niat tinggal niat, maksiat makin kuat. Tidak punya pegangan. Hidup tanpa tujuan.

Imam Ali bin abu thalib as berkata, "Terkadang Tuhan mengambil segalanya dari manusia, hanya supaya ia menemukan Tuhannya.."

Maka ditariklah semua kesombonganku, pada titik yang terlemah, yang membuat lututku jatuh tertekuk ke tanah. Sakit, perih, malu, terhina, seperti antrian pukulan yang tidak ada henti-hentinya. Remuk rasanya tubuh.

Menariknya, memang itu yang terjadi seperti yg dikatakan Imam Ali as. Pada titik yang tidak berdaya, manusia baru mencari Tuhan. Mencari petunjuk2 keberadaan-Nya.

Perhatikan dengan seksama, bagaimana Tuhan membantu kita supaya menemukan-Nya, yaitu dengan menarik semua yang kita sombongkan di dunia, entah itu harta, anak, istri, kesehatan, jabatan atau apapun. Dan Tuhan tahu titik terlemah kita.

Ketika berada pada posisi tak berdaya, dimulailah prosesnya. Dan kembali Imam Ali as menggambarkannya dengan tepat.

"Hendaklah kamu perhatikan daging yang telah tumbuh dari hasil yang haram, lalu kamu kuruskan ia dengan kesedihan sehingga kulit menempel pada tulang, lalu tumbuh di antaranya daging yang baru (dari hasil yang halal).

Dan hendaklah kamu rasakan badanmu dengan sakitnya ketaatan, sebagaimana kamu telah merasakannya dengan manisnya kemaksiatan.."

Jika jatuhnya saja sakit, proses taubat itu jauh lebih sakit. Lumpur hitam yang menutupi badan, dibersihkan. Prosesnya bukan main2. Dikerik, digerus, disikat dan didunia kita mengenalnya dengan kemiskinan, penyakit, kesedihan, kehilangan dan lainnya.

Kenapa harus sakit begitu ? Ya, supaya manusia kembali pada fitrahnya yg suci. Lumpur2 yang menutup akal dan hati, adalah akibat yang kita lakukan sendiri.

Semua proses itu adalan "bantuan" dari Tuhan, sebuah kebaikan dr sang pencipta kepada mahluk yang diciptakan. Sebuah bentuk kasih sayang yang tidak akan pernah mampu kita definisikan.

Jadi temanku yang bertanya bagaimana caranya taubat, niatkanlah dulu dengan sekuat hati, tinggalkan frontal semua kemaksiatan yang memenjarakan dirimu, dan tundukkanlah dirimu di hadapan penciptamu.

Jika kamu tetap tidak bisa, biarkan Tuhan membantumu. Tapi tanggung sendiri resiko dan sakitnya. Duduklah kapan2 bersamaku sambil menyeruput kopi, biar kuceritakan bagaimana menikmati semua proses ini.

Dibalik semua itu banyak sekali mutiara yang akan kau dapatkan yang akan membuat dirimu kaya. Kekayaan materi menjadi tidak berarti, dan pada tingkatan tertentu, engkau bahkan akan melihatnya sebagai sampah. Percayalah.

 

sumber: FB Denny Siregar







Artikel Menarik Lainnya