Anak Berbakti... Berjuang Yakinkan Ayahnya, Dirinya Akan Baik-Baik Saja Hidup Dengan Satu Ginjal

Posted on 2016-01-11 06:40





Parasnya cantik dan sedikit berkeringat memancarkan kekuatan hatinya untuk segera menghadap meja operasi, mendonorkan ginjal untuk ayahnya, Darwin.

"Saya bahagia. Saya malah tidak sabar lagi menantikannya," ujar Rieskhy Wulandari kepada Tribun Sumsel saat bertandang ke rumahnya pada Sabtu, (9/1/2015).

Mahasiswi Universitas Sriwijaya ini dalam waktu dekat akan menjalani operasi transplantasi ginjal di Rumah Sakit Muhammad Hoesin Palembang untuk kemudian menggantikan ginjal ayahnya, Darwin, yang sudah rusak.

Keputusan Rhiesky mendonorkan ginjalnya bukan tanpa halangan, bahkan kekasihnya sempat meminta Rhiesky berpikir ulang.

Temannya ramai-ramai menghubungi Rhiesky melalui pesan BlackBerry Messenger, bahkan di media sosial miliknya ada pihak yang mendukung dan ada juga yang menolak keputusannya.

Namun, gadis cantik ini tetap pada pendiriannya, mendonorkan ginjal agar ayahnya sembuh seperti semula karena kondisi tubuhnya harus menerima ginjal baru.

"Ada teman yang mendukung ada juga yang tidak. Tetapi ini tentang ayah saya, keluarga saya. Saya tetap akan mendonorkan," tegas Rieskhy.

Tiga Tahun Meyakinkan

Darwin didiagnosa mengalami gagal ginjal pada 2013 saat putrinya, Rhiesky masih duduk di bangku kelas dua sekolah menengah atas di Kabupaten Empat Lawang, sementara kedua orangtuanya tinggal di Palembang.

Mendengar kabar ayahnya sakit, Rhiesky sangat terpukul dan selalu berpikir negatif sehingga tiap gawainya berdering hatinya terus was-was, takut hal buruk menimpa ayahnya.

"Saya parno (paranoid). Takutnya nanti dikabari yang tidak-tidak (soal si ayah). Sejak itu saya terus dibayangi ketakutan," jelas perempuan yang pernah dinobatkan sebagai Putri Pariwisata Kabupaten Empat Lawang itu.

Sejak ayahnya didiagnosa gagal ginjal, saat itu ia sudah menimbang-nimbang dan menyerahkan dirinya untuk ikhlas bisa menggantikan ginjal rusak ayahnya dengan ginjalnya yang masih sehat.

Rhiesky adalah anak bungsu dari ketiga bersaudara dan ia bersama kakak keduanya terlahir kembar, namanya Rhieskha Wulandari D dan kakak sulungnya Arie Ferdiansyah.

Baik Rhieskha dan Arie tinggal terpisah dari adik bungsu dan kedua orangtuanya, otomatis selama ini yang memperhatikan kesehatan ayah dan ibunya di rumah hanya Rhiesky.

"Saya mencari-cari informasi tentang penyakit itu, tentang donor ginjal dan sebagainya," ujar mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sriwijaya ini.

Ternyata keinginan Rhiesky tidak sejalan pemikiran ayahnya dan ia menolak mentah-mentah keinginan putrinya karena menimbang masa depannya masih panjang.

Sempat Ditolak

Tidak hanya Rhiesky, dua saudaranya yang berniat mendonorkan ginjal pada akhirnya ditolak oleh Darwin. "Papa waktu itu tidak mau. Sudah didesak tetap tidak mau," tambah dia.

Selama tiga tahun Rhieksy dan kedua kakaknya terus membujuk ayahnya agar mau menerima donor ginjal, sampai akhirnya hatinya luluh dan Darwin bersedia menerima ginjal anaknya.

Rasa takut tetap membayangi Rhiesky setelah kembali berkumpul bersama orangtuanya usai lulus sekolah menengah atas, sehingga ia tak bisa jauh dan tak pernah lupa mengontrol kondisi ayahnya.

Rieskhy Wulandari dan kawan-kawannya bertemu Gubernur Sumatera Selatan, Alex Noerdin. (Dokumentasi pribadi)

"Pernah lihat papa diam saja, tidak bergerak, saya langsung takut. Pikiran saya sudah tidak keruan," cerita dia.

Perasaan-perasaan seperti ini belakangan membuat Rhiesky semakin mantap untuk mendonorkan ginjal miliknya, bahkan untuk meyakinkan ayahnya, mereka berdua sempat mengikuti seminar transplantasi ginjal.

"Orang yang punya satu ginjal tetap akan hidup seperti biasa. Orang yang mendapatkan donor ginjal juga akan hidup seperti biasa lagi. Jadi kenapa tidak mau mendonorkan, jika sama-sama baik," Rhiesky mencoba membesarkan hatinya.

 

sumber: tribunnews









Artikel Menarik Lainnya